Ringkasan Wawancara tentang Pandangan terhadap Identitas Nasional Tugas mandiri 3
Ringkasan Wawancara tentang Pandangan terhadap Identitas Nasional
Nama : Regita Aulia Utami
Nama : 43125010266
Pendahuluan
Wawancara ini saya lakukan dengan maysha sekar wahyuning gusti, seorang mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Mercu Buana. Alasan saya memilih Masya sebagai nara karena ia memiliki pandangan yang menarik mengenai identitas nasional. Melalui wawancara ini, saya ingin mengungkapkan tentang arti identitas nasional, bagaimana penerapan dalam kehidupan sehari-hari, serta tantangan dan peran generasi muda dalam menjaga identitas nasional diera modern pada saat ini.
Isi
Apa arti identitas nasional menurut Anda?
Menurut saya, identitas nasional merupakan jati diri suatu bangsa yang mencerminkan ciri khas, nilai-nilai, budaya, dan karakter yang dimiliki oleh suatu negara sehingga membedakannya dari bangsa lain. Identitas nasional tidak hanya sebatas simbol seperti bendera, lagu kebangsaan, atau bahasa resmi, tetapi juga mencakup aspek-aspek yang lebih mendalam seperti sejarah bersama, nilai-nilai luhur, adat istiadat, serta rasa kebersamaan sebagai satu bangsa.
Menurut saya bahwa identitas nasional terbentuk melalui proses panjang dalam perjalanan sejarah suatu negara. Dalam konteks Indonesia, identitas nasional lahir dari perjuangan bangsa dalam melawan penjajahan dan membangun persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Semangat “Bhinneka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu) menjadi dasar yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia. Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila juga berperan penting dalam memperkuat identitas nasional sebagai pedoman hidup bangsa.
Bagaimana identitas nasional diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?
Menurut Masya, identitas nasional tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai tindakan, kebiasaan, dan sikap yang menunjukkan masyarakat rasa cinta, bangga, serta rasa hormat terhadap bangsa dan negara. Ia menjelaskan bahwa meskipun bentuknya sederhana, hal-hal kecil yang dilakukan oleh masyarakat dapat menunjukkan adanya kesadaran akan jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Masya mencontohkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam komunikasi sehari-hari, baik di lingkungan kampus, tempat kerja, maupun media sosial, merupakan salah satu wujud nyata dari penerapan identitas nasional. Dengan menggunakan bahasa nasional, seseorang telah menunjukkan rasa hormat terhadap simbol negara sekaligus memperkuat rasa persatuan.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa menghormati simbol-simbol negara merupakan bentuk konkret dari kecintaan terhadap tanah air. Misalnya, berdiri tegak saat lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dikumandangkan, atau ikut serta dalam kegiatan pengibaran bendera pada peringatan hari kemerdekaan. Menurutnya, tindakan sederhana seperti itu dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan.
Masya juga memberikan contoh pentingnya menjaga keberagaman dan kehidupan rukun di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural. Ia berpendapat bahwa sikap saling menghargai antaragama, antarsuku, dan antarbudaya adalah wujud nyata dari nilai " Bhinneka Tunggal Ika " yang menjadi dasar identitas nasional Indonesia. Dengan hidup toleransi dan tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan, masyarakat dapat memperkuat persatuan bangsa.
Apa tantangan terbesar dalam menjaga identitas nasional saat ini?
Menurut Masya, tantangan terbesar dalam menjaga identitas nasional saat ini adalah pengaruh globalisasi dan arus informasi yang sangat cepat, melalui internet dan media sosial. Ia menjelaskan bahwa globalisasi membawa banyak manfaat, seperti kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, dan kemudahan komunikasi, namun di sisi lain juga dapat mengancam jati diri bangsa jika tidak disikapi dengan bijak.
Masya menjelaskan bahwa pengaruh budaya asing yang masuk filter tanpa menjadi salah satu tantangan utama. Budaya dari luar negeri kini sangat mudah diterima masyarakat, terutama kalangan muda, melalui media sosial, film, musik, dan gaya hidup. Banyak anak muda yang lebih mengenal budaya Korea, Barat, atau Jepang dibandingkan budaya lokal sendiri. Misalnya, hafal lagu K-pop tetapi tidak mengetahui lagu daerah, atau lebih bangga mengenakan produk luar negeri daripada menggunakan produk buatan dalam negeri. Menurutnya, kondisi ini bisa membuat generasi muda kehilangan rasa bangga terhadap budaya sendiri.
Menurut Anda, bagaimana peran generasi muda dalam memperkuat identitas nasional?
Menurut Masya, generasi muda memiliki peran penting dalam memperkuat identitas nasional, karena mereka adalah penerus bangsa. Ia menjelaskan bahwa identitas nasional akan tetap kuat jika generasi muda memiliki rasa cinta tanah air, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan.
Masya menjelaskan bahwa cara utama memperkuat identitas nasional adalah dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, seperti bersikap adil, menghormati sesama, dan gotong royong. Selain itu, generasi muda juga perlu melestarikan budaya lokal, misalnya dengan mempelajari kesenian daerah atau mengenalkan budaya Indonesia melalui media sosial. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik, karena bahasa merupakan simbol persatuan bangsa. Generasi muda, katanya, harus tetap bangga berbahasa Indonesia di tengah pengaruh bahasa asing.
Selain itu, generasi muda perlu aktif dalam kegiatan sosial dan kebangsaan, serta bijak menggunakan media sosial agar tidak menyebarkan hoaks atau kebencian. Dengan begitu, mereka bisa berkontribusi menjaga persatuan bangsa di era digital.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Maysha Sekar Wahyuning Gusti, dapat disimpulkan bahwa identitas nasional merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan nilai, budaya, dan karakter bangsa Indonesia. Identitas ini terbentuk dari perjalanan sejarah panjang, perjuangan kemerdekaan, serta semangat persatuan dalam keberagaman yang tercermin melalui semboyan Bhinneka Tanggal Ika dan nilai-nilai Pancasila. Dalam kehidupan sehari-hari, identitas nasional dapat diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik, penghormatan terhadap simbol negara, serta sikap toleransi dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, tantangan terbesar dalam menjaga identitas nasional saat ini datang dari pengaruh globalisasi dan budaya asing yang mudah masuk tanpa penyaringan, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dapat mengikis rasa cinta terhadap budaya sendiri jika tidak diimbangi dengan kesadaran nasional yang kuat. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat penting dalam memperkuat identitas nasional dengan cara mengamalkan nilai-nilai Pancasila, melestarikan budaya lokal, menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga, serta bijak dalam menggunakan media sosial. Dengan langkah tersebut, generasi muda dapat menjadi penjaga dan penerus jati diri bangsa Indonesia di era modern.
Komentar
Posting Komentar