Refleksi Observasi Integrasi Nasional di Lingkungan Gang tolo Tugas mandiri 4

 NAMA : REGITA AULIA UTAMI

NIM : 43125010266

Refleksi Observasi Integrasi Nasional di Lingkungan Gang tolo

Lokasi : Gang tolo, Srengseng, Jakarta Barat

PENDAHULUAN

Saya Regita Aulia Utami melakukan observasi di Gang Tolo, sebuah lingkungan tempat tinggal saya selama 17 tahun. Alasan saya memilih lokasi ini karena masyarakatnya cukup beragam, terdiri dari warga dengan latar belakang suku, agama, dan usia yang berbeda. Tujuan observasi ini adalah untuk memahami bagaimana interaksi sosial di lingkungan tersebut mencerminkan kegiatan integrasi nasional, yaitu proses penyatuan berbagai perbedaan demi terciptanya kesatuan bangsa.

TEMUAN OBSERVASI 

Selama observasi di lingkungan Gang Tolo, saya melihat bahwa interaksi antarwarga berjalan cukup baik. Warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama hidup berdampingan secara harmonis. Salah satu kegiatan yang memperkuat persatuan adalah arisan bulanan ibu-ibu dan kerja bakti setiap akhir pekan. Dalam kegiatan tersebut, tidak ada perbedaan antara warga yang berbeda keyakinan, semuanya bekerja sama untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, setiap perayaan hari kemerdekaan, warga mengadakan lomba 17 Agustus bersama. Anak-anak, remaja, hingga lansia ikut berpartisipasi dengan antusias. Kegiatan ini menciptakan suasana kebersamaan yang kuat. Namun, di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat dalam pembagian tugas keamanan malam. Beberapa warga merasa tidak adil karena jadwal ronda lebih sering diberikan pada kelompok tertentu. Meski sempat memicu ketegangan kecil, masalah tersebut akhirnya terselesaikan melalui musyawarah RT.

ANALISIS

Berdasarkan hasil observasi di lingkungan Gang Tolo, terlihat bahwa warga telah menunjukkan praktik nyata dari konsep integrasi nasional melalui kerja sama dan gotong royong dalam kegiatan sosial. Kegiatan seperti kerja bakti dan arisan ibu-ibu menjadi sarana yang efektif untuk mempererat hubungan antarwarga, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, atau status sosial. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga, Persatuan Indonesia, yang tekanan pentingnya menjunjung tinggi semangat persaudaraan dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

REFLEKSI DIRI DAN PEMBELAJARAN 

Dari hasil observasi di lingkungan Gang tolo, saya belajar bahwa keberagaman yang ada bukanlah masyarakat halangan, melainkan kekuatan yang dapat menyejahterakan kehidupan sosial. Saya menyadari bahwa sikap saling menghormati, gotong royong, dan komunikasi yang terbuka merupakan kunci utama terciptanya persatuan di tengah perbedaan. Melihat bagaimana warga bekerja sama dalam kegiatan seperti kerja bakti dan perayaan hari kemerdekaan membuat saya semakin memahami makna nyata dari persatuan Indonesia.

Sebagai generasi muda, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan di lingkungan sekitar. Saya dapat berpartisipasi aktif dengan cara ikut serta dalam kegiatan sosial, membantu menyebarkan semangat toleransi, dan menjadi penghubung antarwarga yang mungkin memiliki perbedaan pandangan. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa integrasi nasional bukan sekadar konsep dalam pelajaran, tetapi sesuatu yang harus diwujudkan melalui tindakan kecil sehari-hari seperti berpendapat, menghargai orang lain, ikut berpartisipasi dalam kegiatan, dan menumbuhkan empati terhadap sesama.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 

Berdasarkan hasil observasi dari Gang tolo, dapat disimpulkan bahwa integrasi nasional dapat tumbuh dengan baik ketika menerapkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan seperti kerja bakti, arisan, serta perayaan hari kemerdekaan menjadi bukti nyata bahwa perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang bagi hidup rukun. Meskipun masih ada tantangan dalam hal komunikasi dan keadilan pembagian tanggung jawab, semangat musyawarah yang dijaga warga menunjukkan bahwa konflik dapat diselesaikan secara damai dan bijaksana.

Sebagai warga terus memperkuat komunikasi antarwarga dengan mengadakan forum pertemuan rutin untuk membahas kegiatan bersama secara terbuka. Selain itu, peran generasi muda perlu ditingkatkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan lingkungan, seperti kerja bakti, karang taruna, atau kegiatan sosial lainnya. Dengan demikian, nilai-nilai integrasi nasional dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat, menciptakan lingkungan yang harmonis, rukun, dan saling menghargai.

REFERENSI 

Kaelan. (2013). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

Damsar & Indrayani. (2017). Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial. Jakarta: Kencana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Terstruktur 6 Dan Mandiri 6

Sikap Sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus mandiri 1

Tugas terstruktur 2