Tugas Mandiri 10 Refleksi Wawasan Nusantara dalam Konteks Global

Nama : Regita Aulia Utami

Nim : 43125010266

Judul:

Jangkar di Tengah Badai: Reaktualisasi Wawasan Nusantara dalam Menghadapi Arus Globalisasi dan Multikulturalisme

1. Pendahuluan 

​Latar Belakang: Mulailah dengan mendefinisikan Wawasan Nusantara (Wasantara) bukan sekadar konsep geografis, melainkan geopolitik Indonesia. Tekankan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang disatukan oleh laut, bukan dipisahkan.

​Isu Sentral: Memasuki zaman ini: Di ​​satu sisi, dunia menjadi "desa global" (globalisasi) yang mewajibkan batas negara; Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan internal untuk menjaga keharmonisan di tengah ribuan suku dan budaya.

Tesis: “Wawasan Nusantara bukan sekedar warisan sejarah, melainkan strategi bertahan hidup yang krusial; ia berfungsi sebagai kompas moral dan filter ideologis agar Indonesia tetap utuh secara politik, ekonomi, dan sosial-budaya di tengah guncangan global.”

Isi I: Wasantara vs Globalisasi 

​Dampak Globalisasi: Analisis bagaimana budaya populer asing dan sistem ekonomi liberal mengancam nilai-nilai lokal dan kemandirian bangsa.

Wasantara sebagai Filter:

​Kesatuan Politik: Tekankan pentingnya satu ideologi (Pancasila) agar bangsa tidak terpecah oleh paham radikal atau liberal yang masuk melalui internet.

​Kesatuan Ekonomi: Bahas tentang konsep Wawasan Nusantara dalam Geoekonomi—bagaimana Indonesia harus mengelola sumber daya alamnya (seperti kebijakan hilirisasi) untuk kepentingan nasional, bukan hanya menjadi pasar bagi negara maju.

​Refleksi: Berikan contoh bagaimana Anda sebagai individu memilih untuk mencintai produk dalam negeri atau mempromosikan pariwisata lokal sebagai bentuk implementasi kesatuan ekonomi dan budaya.

Isi II: Wasantara sebagai Integrator Keberagaman 

Realitas Bhinneka: Deskripsikan kekayaan budaya Indonesia sebagai "pedang bermata dua"—kekuatan jika bersatu, namun rapuh jika dipicu isu SARA.

​Prinsip Kesatuan Sosial-Budaya: Analisis bahwa dalam Wasantara, budaya daerah adalah kekayaan budaya nasional. Perbedaan bukan alasan untuk diskriminasi, melainkan mosaik yang melengkapi.

​Asas Wasantara: Bahas pentingnya Keadilan dan Solidaritas. Jika pembangunan hanya berpusat di Jawa (Jawa-sentris), maka Wasantara gagal. Otonomi daerah harus dipandang sebagai cara mendistribusikan keadilan agar persatuan tetap terjaga.

​Peran Mahasiswa: Refleksikan diri Anda di kampus. Bagaimana Anda berinteraksi dengan teman dari luar pulau? Mahasiswa adalah miniatur Indonesia yang harus menanamkan toleransi dan dialog melintasi budaya tanpa prasangka.

Penutup 

​Rangkuman: Wasantara adalah jawaban atas tantangan eksternal (globalisasi) dan internal (disintegrasi).

Penegasan: Selama kita memandang Indonesia sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, identitas kita tidak akan larut dalam budaya global.

​Saran/Aksi: "Saya berkomitmen untuk menjadi pelopor literasi digital yang nasionalis, menyaring informasi yang memecah belah, dan selalu mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan dalam setiap tindakan akademik maupun sosial."

​Daftar Pustaka :

​Asshiddiqie, J. (2006). Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.

​Lemhannas RI. (Judul Modul/Buku Terkait Wawasan Nusantara).

Sumarsono, dkk. (2001). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap Sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus mandiri 1

Studi Pustaka tentang Sistem Pemerintahan Berdasarkan UUD 1945 dan Literatur Ilmiah Tugas Mandiri 02

Tugas Terstruktur 6 Dan Mandiri 6