Merancang Strategi Ketahanan Sektor Pilihan Tugas Terstruktur 11

Nama : Regita Aulia Utami

Nim : 43125010266

Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Nasional: Transformasi Pertanian Berbasis Digital dan Kedaulatan Lokal

Pendahuluan 

Dalam konsepsi Astagatra, ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis yang mengintegrasikan aspek alamiah (Trigatra) dan aspek sosial (Pancagatra). Sektor ekonomi, khususnya Ketahanan Pangan, merupakan pilar krusial dalam Pancagatra yang memiliki dampak sistemik. Urgensi pemilihan sektor pangan didasarkan pada fakta bahwa pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Ketidakstabilan pangan bukan hanya masalah perut, melainkan pemicu kerawanan sosial yang dapat meruntuhkan stabilitas keamanan nasional. Dalam konteks Astagatra, ketahanan pangan berkaitan erat dengan Gatra Geografi (pemanfaatan lahan) dan Gatra Sumber Kekayaan Alam (SKA), yang jika tidak dikelola dengan baik, akan mencakup posisi Indonesia di tengah-tengah global.

Analisis Masalah dan Anasir Disintegrasi

Sektor pangan Indonesia saat ini menghadapi dua anasir disintegrasi utama yang dapat mencakup keuletan bangsa:

Alih Fungsi Lahan dan Krisis Regenerasi Petani (Anasir Dalam): Secara internal, masifnya konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan pemukiman (terkait Gatra Geografi) serta rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian (terkait Gatra Kependudukan) menjadi ancaman nyata. Tanpa petani dan lahan, ketahanan pangan hanyalah angan-angan, yang pada akhirnya akan meningkatkan ketimpangan perekonomian antara desa dan kota.

> Ketergantungan Impor dan Fluktuasi Harga Global (Anasir Luar): Ketergantungan yang tinggi pada komoditas tertentu (seperti gandum, kedelai, dan daging) membuat kedaulatan ekonomi Indonesia rentan terhadap guncangan geopolitik dan perubahan iklim global. Ketika rantai pasok terganggu, kenaikan harga di pasar domestik dapat memicu protes massa yang berpotensi memecah belah solidaritas sosial.

Analisis Interdependensi Gatra

Ketahanan pangan tidak berdiri sendiri. Berikut adalah keterkaitannya dengan gatra lainnya:

1. Gatra Politik: Kebijakan pemerintah dalam mengatur tata niaga pangan dan diplomasi luar negeri sangat menentukan stabilitas stok. Keputusan politik yang pro-impor tanpa penguatan hulu dapat mematikan ekonomi petani lokal, yang berisiko menciptakan instabilitas politik di daerah.

2. Gatra Geografi: Luas wilayah dan kualitas tanah di Indonesia menentukan potensi produksi pangan. Kerusakan lingkungan atau buruknya tata ruang wilayah secara langsung menurunkan daya dukung lahan terhadap ketersediaan pangan nasional.

Desain Strategi Simulatif: Program “LUMBUNG DIGITAL 2030”

Nama Program: Lumbung Digital 2030 (Kedaulatan Pangan Berbasis Digital)

Tujuan:

Meningkatkan produktivitas komoditas pangan strategis sebesar 25% dan mengurangi ketergantungan impor beras dan jagung hingga 15% dalam jangka waktu 5 tahun melalui modernisasi pertanian.

Langkah Implementasi:

​1. Digitalisasi Pemetaan Lahan (E-Agrimap): Membangun sistem informasi berbasis GIS untuk menggabungkan penggunaan lahan pertanian secara real-time guna mencegah alih fungsi lahan ilegal.

​2. Korporasi Petani Milenial: Pembentukan koperasi modern yang mengintegrasikan petani muda dengan teknologi smart farming (Internet of Things) untuk efisiensi pemupukan dan pengairan.

3. ​Subsidi Output dan Akses Pasar: Mengalihkan subsidi pupuk yang sering salah sasaran menjadi subsidi harga hasil panen, serta menghubungkan petani langsung ke pasar digital (e-commerce) untuk memutus rantai tengkulak.

​4. Diversifikasi Pangan Lokal: Kampanye dan insentif bagi industri pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal (sagu, sorgum, ubi kayu) untuk mengurangi beban konsumsi beras dan gandum.

Indikator Keberhasilan:

​> Kuantitatif: Terbentuknya 1.000 titik "Smart Village" di seluruh provinsi; peningkatan pendapatan riil petani sebesar 20%.

​> Kualitatif: Menurunnya frekuensi konflik agraria dan meningkatnya minat pemuda (lulusan sarjana) untuk terjun ke sektor agribisnis.

Kesimpulan & Rekomendasi

Ketahanan pangan adalah jantung dari ketahanan nasional dalam kerangka Astagatra. Kegagalan pengelolaan sektor ini akan membuka celah bagi anasir disintegrasi untuk memecah belah bangsa melalui isu kelaparan dan ketimpangan.

> Pemerintah: Harus tegas dalam menegakkan hukum tata lahan ruang pertanian dan mempercepat infrastruktur digital di pedesaan.

​> Masyarakat: Perlu mengubah pola konsumsi dengan melakukan diversifikasi pangan dan menghargai produk lokal.

​> Akademisi: Diharapkan mampu menciptakan inovasi teknologi tepat guna yang murah dan mudah diadopsi oleh petani tradisional untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

​Dengan sinergi lintas gatra, “Lumbung Digital 2030” bukan sekadar program ekonomi, melainkan benteng perlindungan pelestarian bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Terstruktur 6 Dan Mandiri 6

Sikap Sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus mandiri 1

membangun rasa kebangsaan melalui aktivitas sosial mahasiswa Terstruktur 1