Tugas Mandiri 14 Refleksi Integritas & Kejujuran
Nama : Regita Aulia Utami
Nim : 43125010266
Menjaga Lentera di Tengah Badai: Refleksi Integritas dan Komitmen Moral Mahasiswa
Pendahuluan
Integritas sering kali didefinisikan sebagai melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada satu pun orang yang melihat. Bagi saya pribadi, integritas bukan sekadar konsep abstrak yang dipelajari di ruang kelas pendidikan kewarganegaraan, melainkan sebuah kompas moral yang menyelaraskan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Di dunia akademik, integritas adalah fondasi utama. Tanpa kejujuran, gelar sarjana yang nantinya diraih hanyalah selembar kertas tanpa nilai substansial. Sebagai mahasiswa, kita sedang dalam masa pembentukan karakter. Jika di masa pendidikan ini kita sudah terbiasa mematikan suara hati demi nilai semu, maka kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi perusak di masa depan. Integritas krusial karena ia menjadi modal sosial yang membangun kepercayaan (trust) antara individu dan sistem, yang pada akhirnya akan menentukan kualitas peradaban sebuah bangsa.
Dinamika Kejujuran dalam Ekosistem Kampus
Memasuki dunia perkuliahan, saya menyadari bahwa ujian integritas tidak selalu datang dalam bentuk tekanan besar, melainkan godaan-godaan kecil yang tampak remeh. Dalam konteks akademik, kejujuran sering kali diuji oleh tuntutan standar nilai yang tinggi dan beban tugas yang menumpuk. Kita sering melihat praktik "titip absen" atau kolaborasi yang kebablasan saat ujian dianggap sebagai bentuk solidaritas pertemanan. Padahal, ini adalah bentuk awal dari pengikisan karakter.
Saya teringat sebuah momen saat menghadapi ujian mata kuliah yang sangat sulit. Sebagian besar teman di kelas saya telah menyiapkan "catatan kecil" dan saling bertukar jawaban melalui pesan singkat. Pada saat itu, saya merasa berada di persimpangan jalan. Ada ketakutan akan kegagalan dan perasaan tertinggal jika saya tetap bertahan dengan kejujuran. Namun, saya teringat bahwa setiap nilai yang saya dapatkan adalah representasi dari kapasitas saya yang sebenarnya. Memilih untuk tidak mencontek saat itu memang membuat nilai saya tidak setinggi mereka yang curang, namun ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli: saya tahu persis sejauh mana kemampuan saya. Fenomena plagiarisme juga menjadi tantangan tersendiri. Di era digital, kemudahan akses informasi melalui internet sering kali membuat mahasiswa terjebak dalam budaya copy-paste. Jika integritas ini diabaikan, dampak jangka panjangnya adalah lahirnya lulusan yang tidak kompeten dan terbiasa mencari jalan pintas, yang nantinya akan membawa mentalitas "korupsi kecil-kecilan" ini ke dunia kerja.
Integritas di Tengah Arus Sosial dan Masyarakat
Transisi dari refleksi personal ke pengamatan sosial menunjukkan gambaran yang lebih kelam. Mengapa integritas begitu sulit ditegakkan di masyarakat kita saat ini? Menurut pengamatan saya, hal ini terjadi karena adanya normalisasi terhadap ketidakjujuran. Di ruang publik, kita menyaksikan bagaimana korupsi bukan lagi dianggap sebagai aib yang memalukan, melainkan sering kali dipandang sebagai "pelicin" birokrasi yang lazim. Ketidakjujuran telah terinstitusionalisasi. Begitu pula dengan penyebaran hoaks di media sosial. Banyak orang rela mengorbankan kebenaran demi agenda politik atau ekonomi tertentu, menciptakan polarisasi yang tajam di masyarakat.
Sulitnya menegakkan integritas berakar pada budaya pragmatisme yang berlebihan—di mana hasil akhir dianggap lebih penting daripada proses. Ketika masyarakat melihat bahwa mereka yang jujur justru sering kali "tersisih" atau hidup dalam kesulitan, sementara mereka yang manipulatif justru sukses secara materi, maka nilai kejujuran mulai luntur. Ketidakjujuran di ruang publik ini menciptakan lingkaran setan yang menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Inilah alasan mengapa integritas harus dimulai dari bangku kuliah; karena mahasiswa adalah calon pemimpin yang akan memutus atau justru memperpanjang rantai ketidakjujuran tersebut di masyarakat.
Rencana Aksi dan Komitmen Profesional
Menyadari beratnya tantangan tersebut, saya telah merumuskan langkah konkret yang akan saya ambil setelah lulus dan terjun ke dunia profesional. Pertama, saya akan menerapkan prinsip "Transparansi Radikal" dalam setiap tanggung jawab yang saya emban. Dalam dunia kerja, ini berarti berani mengakui kesalahan jika melakukan kekeliruan, daripada menutupinya dengan kebohongan yang lebih besar. Kedua, saya berkomitmen untuk membangun jejaring profesional yang memiliki nilai-nilai serupa. Saya percaya bahwa lingkungan sangat memengaruhi integritas seseorang, sehingga memilih ekosistem kerja yang menghargai etika adalah hal yang krusial.
Ketiga, saya akan terus mengedukasi diri dan orang di sekitar saya mengenai pentingnya literasi informasi untuk menangkal hoaks, dimulai dari hal kecil seperti tidak menyebarkan informasi yang belum tervalidasi. Terakhir, saya berkomitmen untuk memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sarana mencari nafkah, melainkan sebagai bentuk pengabdian. Dengan cara pandang ini, saya akan merasa berdosa jika harus mengkhianati kepercayaan publik atau perusahaan melalui tindakan tidak terpuji seperti gratifikasi atau manipulasi data.
Penutup
Sebagai simpulan, integritas dan kejujuran bukanlah beban, melainkan perisai yang melindungi martabat kita sebagai manusia. Tantangan di kampus memang nyata, dan tekanan di masyarakat jauh lebih besar, namun hal itu bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan. Saya menyadari bahwa menjadi jujur mungkin tidak selalu memudahkan jalan saya menuju kesuksesan materi secara instan, namun ia akan menjamin ketenangan hidup dan kehormatan dalam jangka panjang.
Komitmen saya jelas: saya tidak akan menukarkan integritas saya dengan kenyamanan sesaat. Saya berjanji pada diri sendiri untuk tetap menjadi individu yang otentik, yang berani berkata benar meskipun pahit, dan yang akan membawa semangat kejujuran ini ke mana pun kaki saya melangkah setelah meninggalkan bangku universitas. Integritas adalah warisan terbaik yang bisa saya berikan kepada generasi mendatang.
Komentar
Posting Komentar